Biosekuriti & Vaksin Untuk Penangkal Flue Burung

  • 2023-03-30 09:48:54
  • Posted by Admin

Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Virus flu burung (avian influenza/AI) pada unggas menjadi perbincangan hangat beberapa waktu terakhir ini. Adapun AI merupakan penyakit menular pada unggas dengan mortalitas tinggi yakni 90 %. Munculnya virus AI varian (clade) 2.3.4.4b yang mewabah di dunia, bahkan meluas di Benua Amerika dan Eropa, menjadi peringatan bagi Indonesia guna meningkatkan kewasapadaan terhadap paparan penyakit viral pada unggas ini.
 
Kendati demikian, perkembangan varian baru virus AI ini terus terjadi, hingga terakhir ditemukan clade baru di Kalimantan belum lama ini. Dewan Pakar ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia), Teguh Y. Prajitno pada 2022 lalu memang ada virus 2.3.4.4 yang masuk yang terdeteksi di Mei. “Virus AI clade 2.3.4.4 ini adalah virus yang bisa bertahan atau menginfeksi unggas air, unggas yang bermigrasi dan bisa menedesiminasi secara cepat, karena dia bertahan di unggas air liar,” kata Teguh.
 
Ia menjelaskan mengapa hal ini dapat terjadi, sebab adanya brooding cycle dari burung liar tersebut. Terdapat flyway, yaitu jalur terbangnya burung-burung ini yang pada intinya mereka brooding areanya di Siberia dan Cina Utara. Ketika terjadi musim dingin (winter), burung-burung itu sudah mulai terbang ke selatan dan ke berbagai arah. Kemudian di belahan dunia bagian utara sana, mereka akan beristirahat di musim dingin.
 
“Lalu di musim semi yakni Februari, Maret dan April, mereka mulai bermigrasi kembali ke brooding areanya, di mana mereka akan bertelur dan menetaskan anak. Siklus di tahun berikutnya akan kembali lagi terjadi seperti itu, sehingga ketika virus ini bertahan di burung liar tersebut, tentunya virus ini akan dibawa ke mana-mana dan Ini terjadi pada 2.3.4.4c,” sebutnya.
 
Pada 2015 – 2017, Teguh melanjutkan, terlihat burung-burung liar ini mulai dari Cina, pindah sampai ke Eropa. Sejak 2018 – 2019, setiap tahun Eropa terkena flu burung yang namanya clade H5Nx, karena itu masuk N8 yaitu 2.3.4.4b. Itu yang selalu terjadi, dan menurutnya virus tersebut tidak pernah masuk ke Asia Tenggara. Kendati demikian, yang ditemukan sebenarnya adalah H5N8, di mana sudah masuk ke Burma, Myanmar, Thailand dan Vietnam. 
 
Menurut Teguh, biosekuriti ini tetap menjadi satu-satunya jalan untuk mencegah infeksi virus AI. “Vaksinasi kita tetap harus memutuskan, karena kita dalam situasi endemik. Kalau kita tidak bisa mencegah di unggas, dia akan pindah ke manusia, sehingga ini akan muncul human cases. Kita harus menahan virus ini di unggas, bagaimana caranya dengan vaksin yang tepat,” tegas dia.
 
Teguh mengatakan, bahwa ia mempelajari vaksin yang klasik, bahwa apapun yang tidak cocok itu akan gagal. Kemudian, antigenic catography juga sangat penting dan syukur Indonesia memiliki dua institusi yang bisa melakukan ini. 
 
“Update vaksin ke H5N1, selain 2.3.2.1b ini, kita butuh vaksin 2.3.4.4b. Ini pengalaman dari dulu, jika kita terlalu lama, virus akan menyebar ke mana-mana dan terjadi banyak kasus. Terakhir, tidak ada satu vaksin yang bisa mengatasi semua kasus-kasus H5 di dunia. Saat ini kita fokus pada Indonesia saja dan kita bisa, tetapi jika melihat di Meksiko, Mesir dan Vietnam itu kondisi mereka lebih parah dari pada Indonesia, sebab mereka tidak punya vaksin yang lebih tepat apalagi punya sistem yang menggunakan sistem antigenic catography. Adapun FAO berpesan untuk menggunakan vaksin berkualitas tinggi, teregistrasi oleh pemerintah, serta menunjukkan kecocokan antigenik yang baik dengan strain lapangan yang bersirkulasi,” pungkas Teguh.bella

 

http://troboslivestock.com/detail-berita/2023/03/27/57/16843/biosekuriti--vaksin-untuk-penangkal-ai